Burung Hantu

Burung Hantu
Burung hantu belang

Burung hantu belang
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Strigiformes
Wagler, 1830
Suku/familia
Strigidae
Tytonidae

Burung hantu adalah kelompok burung yang merupakan anggota ordo Strigiformes. Burung ini termasuk golongan burung buas (karnivora, pemakan daging) dan merupakan hewan malam (nokturnal). Seluruhnya, terdapat sekitar 222 spesies yang telah diketahui, yang menyebar di seluruh dunia kecuali Antartika, sebagian besar Greenland, dan beberapa pulau-pulau terpencil.

Di dunia barat, hewan ini dianggap simbol kebijaksanaan, tetapi di beberapa tempat di Indonesia dianggap pembawa pratanda maut, maka namanya Burung Hantu. Walau begitu tidak di semua tempat di Nusantara burung ini disebut sebagai burung hantu. Di Jawa misalnya, nama burung ini adalah darès atau manuk darès yang tidak ada konotasinya dengan maut atau hantu. Di Sulawesi Utara, burung hantu dikenal dengan nama Manguni.

Pemerian

Burung hantu amat dikenal karena matanya besar dan menghadap ke depan, tak seperti umumnya jenis burung lain yang matanya menghadap ke samping. Bersama paruh yang bengkok tajam seperti paruh elang dan susunan bulu di kepala yang membentuk lingkaran wajah, tampilan ‘wajah’ burung hantu ini demikian mengesankan dan terkadang menyeramkan. Apalagi leher burung ini demikian lentur sehingga wajahnya dapat berputar 180 derajat ke belakang.

Umumnya burung hantu berbulu burik, kecoklatan atau abu-abu dengan bercak-bercak hitam dan putih. Dipadukan dengan perilakunya yang kerap mematung dan tidak banyak bergerak, menjadikan burung ini tidak mudah kelihatan; begitu pun ketika tidur di siang hari di bawah lindungan daun-daun.

Ekor burung hantu umumnya pendek, namun sayapnya besar dan lebar. Rentang sayapnya mencapai sekitar tiga kali panjang tubuhnya.

Kebiasaan

Kebanyakan jenis burung hantu berburu di malam hari, meski sebagiannya berburu ketika hari remang-remang di waktu subuh dan sore (krepuskular) dan ada pula beberapa yang berburu di siang hari.

Mata yang menghadap ke depan, sehingga memungkinkan mengukur jarak dengan tepat; paruh yang kuat dan tajam; kaki yang cekatan dan mampu mencengkeram dengan kuat; dan kemampuan terbang tanpa berisik, merupakan modal dasar bagi kemampuan berburu dalam gelapnya malam. Beberapa jenis bahkan dapat memperkirakan jarak dan posisi mangsa dalam kegelapan total, hanya berdasarkan indera pendengaran dibantu oleh bulu-bulu wajahnya untuk mengarahkan suara.

Burung hantu berburu aneka binatang seperti serangga, kodok, tikus, dan lain-lain.

Sarang terutama dibuat di lubang-lubang pohon, atau di antara pelepah daun bangsa palem. Beberapa jenis juga kerap memanfaatkan ruang-ruang pada bangunan, seperti di bawah atap atau lubang-lubang yang kosong. Bergantung pada jenisnya, bertelur antara satu hingga empat butir, kebanyakan berwarna putih atau putih berbercak.

Ragam Jenis

Ordo Strigiformes terdiri dari dua suku (familia), yakni suku burung serak atau burung-hantu gudang (Tytonidae) dan suku burung hantu sejati (Strigidae). Banyak dari jenis-jenis burung hantu ini yang merupakan jenis endemik (menyebar terbatas di satu pulau atau satu region saja) di Indonesia, terutama dari marga Tyto, Otus, dan Ninox.

Beberapa contohnya adalah:

  • Burung hantu Pere David
  • Burung hantu elang Andaman
  • Burung hantu kelabu besar

Tytonidae

  • Serak jawa (Tyto alba)
  • Serak bukit (Phodilus badius)

Strigidae

  • Celepuk reban (Otus lempiji)
  • Beluk jampuk (Bubo sumatranus)
  • Beluk ketupa (Ketupa ketupu)
  • Punggok coklat (Ninox scutulata)
  • Kokok beluk (Strix leptogrammica)
Burung Hantu Pere David
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Strigiformes
Famili: Strigidae
Genus: Strix
Spesies: S. davidi
Nama binomial
Strix davidi
Sharpe, 1875

Burung Hantu Pere David (Strix davidi) adalah salah satu spesies burung hantu. Beberapa seperti BirdLife International, ditangani seperti subspesies Burung Hantu Ural Strix uralensis.

Burung hantu elang Andaman
Status konservasi
Berkas:Status IUCN3.1 NT.svg
Hampir terancam (IUCN3.1)
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Strigiformes
Famili: Strigidae
Genus: Ninox
Spesies: N. affinis
Nama binomial
Ninox affinis
Beavan, 1867

Burung hantu elang Andaman, Ninoxe Des Andaman, atau Nínox De Andamán (Ninox affinis) adalah spesies burung hantu dalam famili Strigidae.

Burung ini endemik terhadap India.

Habitat ini terancam akibat hilangnya habitat.

Burung hantu kelabu besar
Status konservasi

Risiko rendah
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Strigiformes
Famili: Strigidae
Genus: Strix
Spesies: S. nebulosa
Nama binomial
Strix nebulosa
Forster, 1772

Burung hantu kelabu besar (Great Gray Owl atau Strix nebulosa) adalah salah satu spesies burung hantu yang pertama kali dideskripsikan oleh Johann Reinhold Forster (seorang naturalis yang mengikuti perjalanan Kapten James Cook pada pelayaran keliling dunia yang kedua) pada 1772.

Nama nebulosa itu diadaptasi dari kata nebulosus yang berarti berkabut (foggy). Burung ini memiliki julukan lain yang cukup banyak: Great Gray Ghost (hantu kelabu besar), Phantom of the north, cinerous owl, spectral owl, lapland owl, spruce owl, bearded owl dan sooty owl. Ia menjadi logo provinsi Manitoba di Kanada.

Burung yang berukuran panjang 61 – 84 cm dan berat 790 – 1454 gram ini aktif di malam hari, termasuk kala senja dan sebelum fajar menyingsing. Ia juga aktif di siang hari, ketika masa bertelur.

Kala musim dingin, burung ini membutuhkan pengerat kecil itu sebanyak sepertiga berat tubuhnya per hari. Sang betina wajib menumpuk cadangan makanan untuk bertahan hidup melampaui bulan-bulan musim panas yang jauh lebih sulit.

Bagi burung hantu kelabu besar yang hidup di wilayah Alaska dan Kanada, pengerat kecil – vole – menjadi santapan utamanya, namun yang tinggal di California, Amerika Serikat, melahap pocket gopher (keluarga Geomyidae) sebagai santapan penting.

Menurut catatan peneliti, si burung yang tinggal di belahan Amerika Utara kerap berpindah mengikuti perpindahan si vole tersebut. Ia sanggup terbang ratusan kilometer mengikuti naik-turunnya populasi mangsa. Namun buat yang hidup di California yang jenis makanannya lebih beragam, cenderung menetap.

Burung hantu kelabu besar dapat mencapai umur 40 tahun, dalam penangkaran. Di habitat alaminya, si burung mati lantaran disebabkan kelaparan. Musuh alaminya, ketika si burung masih remaja, adalah serigala, marten dan Great Horned Owl. Ia tersebar dari Alaska hingga seluruh Kanada, di Pegunungan Rocky bagian utara dan Minnesota bagian utara. Ia juga ditemukan di Eropa dan Asia bagian utara.

Celepuk Reban
Celepuk reban, dari Bogor, Jawa Barat

Celepuk reban,
dari Bogor, Jawa Barat
Status konservasi

Risiko rendah
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Strigiformes
Famili: Strigidae
Genus: Otus
Spesies: O. lempiji
Nama binomial
Otus lempiji
(Horsfield, 1821)

Celepuk reban adalah sejenis burung hantu kecil dari suku Strigidae. Juga dikenal dengan nama-nama lain seperti celepuk (Ind., nama umum), bueuk (Sd.), manuk kuwek (Jw.) dan lain-lain, menuruti bunyi suaranya. Dalam bahasa Inggris disebut Sunda Scops-Owl atau Collared Scops-Owl.

Nama ilmiahnya adalah Otus lempiji (Horsfield, 1821), namun beberapa penulis masih memasukkannya sebagai subspesies dari Otus bakkamoena, yang memiliki persebaran luas di Asia bagian selatan.

Pengenalan

Bertubuh kecil, panjang tubuh total (diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 20-21 cm. Panjang sayap sekitar 15 cm, dan berat sekitar 100 gram.

Seperti umumnya burung hantu, celepuk ini berwarna burik. Sisi atas tubuh (dorsal) coklat kehitaman atau keabu-abuan berbintik-bintik hitam, kuning dan putih, sisi bawah (ventral) kuning tua kecoklatan bercoret-coret hitam. Jumbai telinga menonjol, keputihan; dengan tengkuk dan kerah kuning abu-abu pucat.

Iris mata berwarna coklat gelap atau kekuningan, paruh kuning, dan kaki kuning kotor.

Banyak jenis celepuk yang warnanya bermiripan, sehingga identifikasi harus dilakukan dengan hati-hati. Bantuan lainnya ialah dengan menggunakan suaranya.

Jantan bersuara lembut, wuuup.. sedikit meninggi. Betina bernada lebih tinggi, bergetar berubah menurun: whiio atau pwok.., sekitar lima kali per menit. Terkadang juga mengeluarkan cicitan lembut. Pasangan sering melakukan duet.

Kebiasaan dan Penyebaran

Celepuk yang umum didapati di wilayah berpohon, sampai dengan ketinggian 1.600 m dpl. Di tepi hutan, perkebunan, pekarangan, hingga taman-taman di kota besar.

Sering bertengger rendah di tajuk pohon atau perdu, berbunyi-bunyi dengan memilukan, atau bersahutan dengan pasangannya. Sewaktu-waktu terjun menyambar mangsanya di permukaan tanah atau vegetasi yang lebih rendah. Sering pula berburu bersama dengan anak-anaknya.

Celepuk reban memangsa aneka serangga malam, seperti ngengat dan belalang; kodok; dan juga burung kecil.

Telur sekitar 2-3 butir, putih, hampir bulat; diletakkan dalam sarangnya di lubang pohon, di sela pelepah kelapa, atau di rumpun bambu. Di Jawa Barat berbiak antara Februari sampai Juni, di Jawa Tengah antara Nopember sampai Januari.

Celepuk reban menyebar luas di Asia Tenggara, Filipina, Kalimantan, Sumatra, Jawa dan Bali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: