Kubis-kubisan

Suku kubis-kubisan atau Brassicaceae (atau Cruciferae) ialah salah satu suku anggota tumbuhan berbunga. Dalam keluarga ini terdapat sejumlah jenis sayuran yang banyak berguna bagi kehidupan manusia. Cruciferae adalah nama yang lebih dahulu digunakan yang artinya “pembawa silangan”, yang mencerminkan ciri khas suku ini karena memiliki empat kelopakbunga yang tersusun menyerupai tanda silang atau salib.

Brassicaceae ditemukan di hampir semua zona iklim sedang hingga daerah tropika dan yang paling banyak ditemukan di kawasan Laut Tengah. Secara keseluruhan, terdapat 350 marga (genus) dan sekitar 3.000 spesies. Keseluruhan marga dicantumkan pada artikel “Daftar marga anggota Brassicaceae”.

Sesawi India atau mustar India (Brassica juncea (L.) Czern.) banyak dibudidayakan di India dan wilayah Asia lainnya. Jenis sesawi ini relatif lebih tahan kekeringan daripada jenis-jenis Brassica lainnya. B. juncea adalah hasil persilangan alami dua spesies antara Brassica rapa dan Brassica nigra.

Biji sesawi coklat dipergunakan sebagai bahan baku rempah-rempah mustar yang disebut brown mustard (“mustar coklat”) karena kandungan sinigrin dan sinapinnya, seperti juga B. nigra dan Sinapis alba.

Brassica rapa L. (sinonim B. campestris) adalah salah satu spesies dari suku sawi-sawian (Brassicaceae, dulu dikenal sebagai Cruciferae). Spesies ini amat beragam penampilannya, sehingga diperlukan pengelompokan di bawah spesies (infraspesifik) untuk memperjelas posisi setiap macamnya. Di dalamnya terdapat kelompok sayuran daun (misalnya sawi dan “rubsen”), sayuran umbi (dipanen umbi akarnya seperti turnip), pakan ternak, serta penghasil minyak (dari bijinya).

Sawi hijau (Brassica rapa convar. parachinensis; suku sawi-sawian atau Brassicaceae) merupakan jenis sayuran yang cukup populer. Dikenal pula sebagai caisim, caisin, atau sawi bakso, sayuran ini mudah dibudidayakan dan dapat dimakan segar (biasanya dilayukan dengan air panas) atau diolah menjadi asinan (kurang umum).

Jenis sayuran ini mudah tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi. Bila ditanam pada suhu sejuk tumbuhan ini akan cepat berbunga. Karena biasanya dipanen seluruh bagian tubuhnya (kecuali akarnya), sifat ini kurang disukai. Pemuliaan sawi ditujukan salah satunya untuk mengurangi kepekaan akan suhu ini.

Sawi putih (Brassica rapa convar. pekinensis; suku sawi-sawian atau Brassicaceae ) dikenal sebagai sayuran olahan dalam masakan Tionghoa; karena itu disebut juga sawi cina. Ia dikenal pula sebagai petsai. Disebut sawi putih karena daunnya yang cenderung kuning pucat dan tangkai daunnya putih. Sawi putih dapat dilihat penggunaannya padaasinan (diawetkan dalam cairan gula dan garam), dalam capcay, atau pada sup bening. Sawi putih beraroma khas namun netral.

Habitus tumbuhan ini mudah dikenali: memanjang, seperti silinder dengan pangkal membulat seperti peluru. Warnannya putih. Daunnya tumbuh membentuk roset yang sangat rapat satu sama lain.

Mustar putih atau sesawi putih (Sinapis alba L. syn. Brassica alba syn. S. hirta syn. B. hirta) merupakan tumbuhan sesawi yang bijinya diolah menjadi mustar, rempah-rempah penyedap dalam masakan Eropa. Tumbuhan ini berasal dari daerah Laut Tengah bagian timur dan sudah sejak masa Romawi dikembangkan oleh manusia. Daunnya digunakan pula sebagai pakan ternak dan biasa ditanam oleh petani Eropa sebagai pupuk hijau untuk menjaga kondisi tanah.

Rasa pedas dan menyengat disebabkan oleh kandungan sinapin dan sinalbin pada bijinya. Bijinya bulat, berwarna kuning pucat, dengan diameter sekitar 1mm. Biji dipanen lalu dihaluskan menjadi bubuk mustar putih yang relatif lembut dibandingkan dengan mustar coklat atau mustar hitam. Biji ini mengandung sinalbin (3%), protein, dan lemak (sampai 30%). Rasa pedas dan menyengat dari mustar putih disebabkan oleh sinalbin. Mustar putih memberikan rasa pedas yang lembut dan banyak disukai orang daripada biji mustar hitam.

Sesawi hitam, black mustard, atau Brassica nigra (L.) WDJ. Koch merupakan tanaman semusim yang ditanam untuk dimanfaatkan bijinya sebagai rempah-rempah. Biji sesawi hitam diolah menjadi mustar. Mustar hitam yang dihasilkannya merupakan mustar dengan “daya sengat” yang paling kuat — namun nyaris tanpa aroma — dibandingkan dengan sumber mustar lainnya. Sebagaimana sesawi lain, efek “sengatan” ini berasal dari kandungan beberapa bahan golonganglukosinolat seperti sinalbin, sinigrin, dan sinapin.

MORE 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: