Paku

Tumbuhan paku (Pteridophyta)
Polystichum setiferum

Polystichum setiferum
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Pteridophyta
Kelas
Psilotopsida
Equisetopsida
Marattiopsida
Polypodiopsida

Tumbuhan paku (atau paku-pakuan, Pteridophyta atau Filicophyta), adalah satu divisio tumbuhan yang telah memiliki sistem pembuluh sejati (kormus) tetapi tidak menghasilkan biji untuk reproduksinya. Alih-alih biji, kelompok tumbuhan ini masih menggunakan spora sebagai alat perbanyakan generatifnya, sama seperti lumut dan fungi.

Tumbuhan paku tersebar di seluruh bagian dunia, kecuali daerah bersalju abadi dan daerah kering (gurun). Total spesies yang diketahui hampir 10.000 (diperkirakan 3000 di antaranya tumbuh di Indonesia), sebagian besar tumbuh di daerah tropika basah yang lembab. Tumbuhan ini cenderung tidak tahan dengan kondisi air yang terbatas, mungkin mengikuti perilaku moyangnya di zaman Karbon, yang juga dikenal sebagai masa keemasan tumbuhan paku karena merajai hutan-hutan di bumi. Serasah hutan tumbuhan pada zaman ini yang memfosil sekarang ditambang orang sebagai batu bara.

Morfologi

Bentuk tumbuhan paku bermacam-macam, ada yang berupa pohon (paku pohon, biasanya tidak bercabang), epifit, mengapung di air, hidrofit, tetapi biasanya berupa terna dengan rizoma yang menjalar di tanah atau humus dan ental (bahasa Inggris frond) yang menyangga daun dengan ukuran yang bervariasi (sampai 6 m). Ental yang masih muda selalu menggulung (seperti gagang biola) dan menjadi satu ciri khas tumbuhan paku. Daun pakis hampir selalu daun majemuk. Sering dijumpai tumbuhan paku mendominasi vegetasi suatu tempat sehingga membentuk belukar yang luas dan menekan tumbuhan yang lain.

Daur hidup (metagenesis)

Protalium (panah merah) dengan tumbuhan paku muda

Daur hidup tumbuhan paku mengenal pergiliran keturunan, yang terdiri dari dua fase utama:gametofit dan sporofit. Tumbuhan paku yang mudah kita lihat merupakan bentuk fase sporofit karena menghasilkan spora. Bentuk generasi fase gametofit dinamakan protalus (prothallus) atau protalium (prothallium), yang berwujud tumbuhan kecil berupa lembaran berwarna hijau, mirip lumut hati, tidak berakar (tetapi memiliki rizoid sebagai penggantinya), tidak berbatang, tidak berdaun. Prothallium tumbuh dari spora yang jatuh di tempat yang lembab. Dari prothallium berkembang anteridium (antheridium, organ penghasil spermatozoid atau sel kelamin jantan) dan arkegonium (archegonium, organ penghasil ovum atau sel telur). Pembuahan mutlak memerlukan bantuan air sebagai media spermatozoid berpindah menuju archegonium. Ovum yang terbuahi berkembang menjadi zigot, yang pada gilirannya tumbuh menjadi tumbuhan paku baru.

Tumbuhan berbiji (Spermatophyta) juga memiliki daur seperti ini tetapi telah berevolusi lebih jauh sehingga tahap gametofit tidak mandiri. Spora yang dihasilkan langsung tumbuh menjadi benang sari atau kantung embrio.

Klasifikasi

Secara tradisional, Pteridophyta mencakup semua kormofita berspora, kecuali lumut hati, lumut tanduk, dan tumbuhan lumut. Selain paku sejati (kelas Filicinae), termasuk di dalamnya paku ekor kuda (Equisetinae), rane dan paku kawat (Lycopodiinae), Psilotum (Psilotinae), serta Isoetes (Isoetinae). Sampai sekarang pun ilmu yang mempelajari kelompok-kelompok ini disebut pteridologi dan ahlinya disebut pteridolog.

Smith et al. (2006) mengajukan revisi yang cukup kuat berdasarkan data morfologi dan molekular. Berdasarkan klasifikasi terbaru ini, Lycophyta (rane, paku kawat, dan Isoetes) merupakan tumbuhan berpembuluh yang pertama kali terpisah dari yang lain, sedangkan paku-pakuan serta tumbuhan berbiji berada pada kelompok lain. Selanjutnya terlihat bahwa semua kormofita berspora yang tersisa tergabung dalam satu kelompok besar, yang layak dikatakan sebagai anggota divisio tumbuhan paku (Pteridophyta). Dari hasil revisi ini juga terlihat bahwa sejumlah paku-pakuan yang dulu dianggap sebagai paku primitif (seperti Psilotum) ternyata lebih dekat berkerabat dengan paku tunjuk langit (Helminthostachys), sementara paku ekor kuda (Equisetum’) sama dekatnya dengan paku sejati terhadap Marattia.

Dengan demikian, berdasarkan klasifikasi baru ini, tumbuhan paku dapat dikelompokkan sebagai berikut.

Divisio: Lycophyta
dengan satu kelas: Lycopsida.

Divisio: Pteridophyta
dengan empat kelas monofiletik:

  • Psilotopsida, mencakup Ophioglossales.
  • Equisetopsida
  • Marattiopsida
  • Polypodiopsida (=Pteridopsida, Filicopsida)

Divisi terakhir ini mencakup semua tumbuhan yang biasa dikenal sebagai paku sejati. Berikut adalah klasifikasi lengkap menurut Smith et al. (2006):

Kelas Psilotopsida
Bangsa Ophioglossales
Suku Ophioglossaceae (termasuk Botrychiaceae, Helminthostachyaceae)
Bangsa Psilotales
Suku Psilotaceae (termasuk Tmesipteridaceae)
Kelas Equisetopsida [=Sphenopsida]
Bangsa Equisetales
Suku Equisetaceae
Kelas Marattiopsida
Bangsa Marattiales
Suku Marattiaceae (termasuk Angiopteridaceae, Christenseniaceae, Danaeaceae, Kaulfussiaceae)
Kelas Polypodiopsida [=Filicopsida, Pteridopsida]
Bangsa Osmundales
Suku Osmundaceae
Bangsa Hymenophyllales
Suku Hymenophyllaceae (termasuk Trichomanaceae)
Bangsa Gleicheniales
Suku Gleicheniaceae (termasuk Dicranopteridaceae, Stromatopteridaceae)
Suku Dipteridaceae (termasuk Cheiropleuriaceae)
Suku Matoniaceae
Bangsa Schizaeales
Suku Lygodiaceae
Suku Anemiaceae (termasuk Mohriaceae)
Suku Schizaeaceae
Bangsa Salviniales
Suku Marsileaceae (termasuk Pilulariaceae)
Suku Salviniaceae (termasuk Azollaceae)
Bangsa Cyatheales
Suku Thyrsopteridaceae
Suku Loxomataceae
Suku Culcitaceae
Suku Plagiogyriaceae
Suku Cibotiaceae
Suku Cyatheaceae (termasuk Alsophilaceae, Hymenophyllopsidaceae)
Suku Dicksoniaceae (termasuk Lophosoriaceae)
Suku Metaxyaceae
Bangsa Polypodiales
Suku Lindsaeaceae (termasuk Cystodiaceae, Lonchitidaceae)
Suku Saccolomataceae
Suku Dennstaedtiaceae (termasuk Hypolepidaceae, Monachosoraceae, Pteridiaceae)
Suku Pteridaceae (termasuk Acrostichaceae, Actiniopteridaceae, Adiantaceae, Anopteraceae, Antrophyaceae, Ceratopteridaceae, Cheilanthaceae, Cryptogrammaceae, Hemionitidaceae, Negripteridaceae, Parkeriaceae, Platyzomataceae, Sinopteridaceae, Taenitidaceae, Vittariaceae)
Suku Aspleniaceae
Suku Thelypteridaceae
Suku Woodsiaceae (termasuk Athyriaceae, Cystopteridaceae)
Suku Blechnaceae (termasuk Stenochlaenaceae)
Suku Onocleaceae
Suku Dryopteridaceae (termasuk Aspidiaceae, Bolbitidaceae, Elaphoglossaceae, Hypodematiaceae, Peranemataceae)
Suku Lomariopsidaceae (termasuk Nephrolepidaceae
Suku Tectariaceae
Suku Oleandraceae
Suku Davalliaceae
Suku Polypodiaceae (termasuk Drynariaceae, Grammitidaceae, Gymnogrammitidaceae, Loxogrammaceae, Platyceriaceae, Pleurisoriopsidaceae)
Marsilea drummondii

Marsilea drummondii
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Pteridophyta
Kelas: Polypodiopsida
Ordo: Salviniales
Suku
  • Marsileaceae (semanggi dan Pilularia)
  • Salviniaceae (kiambang dan Azolla)

Paku air merupakan nama sekelompok paku-pakuan berukuran kecil yang termasuk dalam bangsa Salviniales (dulu dinamakan Hydropteridales) yang kesemuanya hidup berasosiasi dengan air, baik mengapung atau tumbuh di tempat tergenang. Namun demikian, paku laut (Acrostichum aureum) dan paku rawa tidak termasuk bangsa ini walaupun hidup di air.

Ordo ini terdiri dari dua suku: Marsileaceae (paku air berakar) dan Salviniaceae (paku air mengapung). Semua paku air bersifat heterospor: menghasilkan dua macam spora yang berbeda ukuran dan kelaminnya.

Contoh spesies yang termasuk di dalamnya:

  • Semanggi (Marsilea spp.)
  • Kiambang (Salvinia spp.)
  • Azolla (Azolla spp.)
Paku ekor kuda

Equisetum arvense dengan
percabangan berkarang
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisio: Sphenophyta
Kelas: Equisetopsida
Ordo: Equisetales
Familia: Equisetaceae
Genus: Equisetum

Nama paku ekor kuda merujuk pada segolongan kecil tumbuhan (sekitar 20 spesies) yang umumnya herba kecil dan semua masuk dalam genus Equisetum (dari equus yang berarti “kuda” dan setum yang berarti “rambut tebal” dalam bahasa Latin). Anggota-anggotanya dapat dijumpai di seluruh dunia kecuali Antartika. Di kawasan Malesia (Indonesia termasuk di dalamnya) hanya dijumpai satu spesies saja, E. debile Roxb. (Melayu: “rumput betung”, Sunda: “tataropongan”, Jawa: “petongan”). Kalangan taksonomi masih memperdebatkan apakah ekor kuda merupakan divisio tersendiri, Equisetophyta (atau Sphenophyta), atau suatu kelas dari Pteridophyta, Equisetopsida (atau Sphenopsida). Hasil analisis molekular menunjukkan kedekatan hubungan dengan Marattiopsida.

Semua anggota paku ekor kuda bersifat tahunan, terna berukuran kecil (tinggi 0.2-1.5 m), meskipun beberapa anggotanya (hidup di Amerika Tropik) ada yang bisa tumbuh mencapai 6-8 m (E. giganteum dan E. myriochaetum).

Batang tumbuhan ini berwarna hijau, beruas-ruas, berlubang di tengahnya, berperan sebagai organ fotosintetik menggantikan daun. Batangnya dapat bercabang. Cabang duduk mengitari batang utama. Batang ini banyak mengandung silika. Ada kelompok yang batangnya bercabang-cabang dalam posisi berkarang dan ada yang bercabang tunggal. Daun pada semua anggota tumbuhan ini tidak berkembang baik, hanya menyerupai sisik yang duduk berkarang menutupi ruas. Spora tersimpan pada struktur berbentuk gada yang disebut strobilus (jamak strobili) yang terletak pada ujung batang (apical). Pada banyak spesies (misalnya E. arvense), batang penyangga strobilus tidak bercabang dan tidak berfotosintesis (tidak berwarna hijau) serta hanya muncul segera setelah musim salju berakhir. Jenis-jenis lain tidak memiliki perbedaan ini (batang steril mirip dengan batang pendukung strobilus), misalnya E. palustre dan E. debile.

Batang fertil E. arvense dengan strobilus di ujungnya. Batang ini muncul pada akhir musim salju, sebelum munculnya batang steril yang fotosintetik (lihat gambar di taxobox).

Spora yang dihasilkan paku ekor kuda umumnya hanya satu macam (homospor) meskipun spora yang lebih kecil pada E. arvense tumbuh menjadi protalium jantan. Spora keluar dari sporangium yang tersusun pada strobilus. Sporanya berbeda dengan spora paku-pakuan karena memiliki empat “rambut” yang disebut elater. Elater berfungsi sebagai pegas untuk membantu pemencaran spora.

Paku ekor kuda menyukai tanah yang basah, baik berpasir maupun berlempung, beberapa bahkan tumbuh di air (batang yang berongga membantu adaptasi pada lingkungan ini). E.arvense dapat tumbuh menjadi gulma di ladang karena rimpangnya yang sangat dalam dan menyebar luas di tanah. Herbisida pun sering tidak berhasil mematikannya. Di Indonesia, rumput betung (E. debile) digunakan sebagai sikat untuk mencuci dan campuran obat.

Pada masa lalu, kira-kira pada zaman Karbonifer, paku ekor kuda purba dan kerabatnya (Calamites, dari divisio yang sama, sekarang sudah punah) mendominasi hutan-hutan di bumi. Beberapa spesies dapat tumbuh sangat besar, mencapai 30 m, seperti ditunjukkan pada fosil-fosil yang ditemukan pada deposit batu bara. Batu bara dianggap sebagai sisa-sisa serasah dari hutan purba ini yang telah membatu.

Contoh spesies

Subgenus Equisetum
  • Equisetum arvense – paku ekor kuda ladang
  • Equisetum bogotense – paku ekor kuda Andes
  • Equisetum diffusum – paku ekor kuda Himalaya
  • Equisetum fluviatile – paku ekor kuda air
  • Equisetum palustre – paku ekor kuda rawa
  • Equisetum pratense – paku ekor kuda padang
  • Equisetum sylvaticum – paku ekor kuda hutan
  • Equisetum telmateia – paku ekor kuda besar
Subgenus Hippochaete
  • Equisetum giganteum – paku ekor kuda raksasa
  • Equisetum myriochaetum – paku ekor kuda raksasa Meksiko
  • Equisetum hyemale – paku ekor kuda kaku, telah diimpor ke Indonesia pula sebagai tanaman hias. (Gambar menarik di sini)
  • Equisetum laevigatum – paku ekor kuda lunak
  • Equisetum ramosissimum – paku ekor kuda ramosus
    • E. ramosissimum ssp. ramosissimum
    • E. ramosissimum ssp. debile (syn. E. debile Roxb. ex Vaucher) – rumput betung
  • Equisetum scirpoides – paku ekor kuda katai
  • Equisetum variegatum – paku ekor kuda belang
Aspleniaceae
Cysopteris fragilis syn. Asplenium fragilis

Cysopteris fragilis syn. Asplenium fragilis
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Pteridophyta
Kelas: Pteridopsida
Ordo: Polypodiales
Famili: Aspleniaceae
Genera
  • Asplenium
  • Hymenasplenium
  • Phyllitis

Aspleniaceae merupakan salah satu suku anggota tumbuhan paku (Pteridophyta) yang tergolong dalam bangsa paku sejati yang terbesar (Polypodiales). Anggota-anggotanya dicirikan dengan ental yang relatif kaku, berdaun agak tebal, sori terletak di sisi bawah helai daun dan tersembunyi di balik “lipatan” yang berada tepat pada urat-urat daun yang menyirip.

Ahli perpakuan (pteridologi) umumnya sekarang sepakat bahwa suku ini beranggotakan satu sampai tiga marga saja (Asplenium, Hymenasplenium, dan Phyllitis), karena banyak anggotanya yang mampu dengan mudah bersilang. Hasil kajian filogenetik dari Murukami et al. (1999) menunjukkan bahwa genus Camptosorus dan Neottopteris dapat digabungkan ke dalam genus Asplenium, tetapi mempertahankan Hymenasplenium (termasuk Boniniella) dan Phyllitis sebagai marga/genus yang terpisah.

Salah satu anggotanya adalah tanaman hias populer paku sarang burung (A. nidus).

Asplenium dimorphum

Asplenium nidus
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Pteridophyta
Kelas: Polypodiopsida
Ordo: Polypodiales
Famili: Aspleniaceae
Genus: Asplenium
Spesies: A. nidus
Nama binomial
Asplenium nidus
L.

Paku sarang burung (Asplenium nidus, syn.: A. ficifolium Goldm., Thamnopteris nidus (L.) C. Presl., Neottopteris rigida Feé) merupakan jenis tumbuhan paku populer sebagai tanaman hias halaman. Orang Sunda menyebutnya kadaka, sementara dalam bahasa Jawa dikenal dengan kedakah. Penyebaran alaminya adalah di sabuk tropis Dunia Lama (Afrika Timur, India tropis, Indocina, Malesia, hingga pulau-pulau di Samudera Pasifik. Walaupun dalam artikel ini paku sarang burung disamakan dengan A. nidus hasil penelitian terakhir menunjukkan kemungkinan revisi, bahwa paku sarang burung mencakup beberapa jenis berkerabat dekat namun berbeda.  A. australasiaticum juga sering dianggap sebagai paku sarang burung.

Paku ini mudah dikenal karena tajuknya yang besar, entalnya dapat mencapai panjang 150cm dan lebar 20cm, menyerupai daun pisang. Peruratan daun menyirip tunggal. Warna helai daun hijau cerah, dan menguning bila terkena cahaya matahari langsung. Spora terletak di sisi bawah helai, pada urat-urat daun, dengan sori tertutup semacam kantung memanjang (biasa pada Aspleniaceae). Ental-ental yang mengering akan membentuk semacam “sarang” yang menumpang pada cabang-cabang pohon. “Sarang” ini bersifat menyimpan air dan dapat ditumbuhi tumbuhan epifit lainnya.

Paku ini kebanyakan epifit, namun sebetulnya dapat tumbuh di mana saja asalkan terdapat bahan organik yang menyediakan hara. Karena merupakan tumbuhan bawah tajuk, ia menyukai naungan.

Di Hong Kong, jenis ini dilindungi oleh undang-undang.

Paku tanduk rusa Platycerium
Paku tanduk rusa biasa (P. bifurcatum)

Paku tanduk rusa biasa (P. bifurcatum)
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Pteridophyta
Kelas: Pteridopsida
Ordo: Polypodiales
Famili: Polypodiaceae
Genus: Platycerium
Desv.
Spesies
  • Platycerium andinum Baker
  • Platycerium alcicorne Gaud.
  • Platycerium bifurcatum (Cav.) C.Chr., dari Malesia sampai Polinesia
  • Platycerium coronarium (Koenig) Desv., dari Asia Tenggara daratan hingga Sumatera
  • Platycerium elephantotis Schweinf., asal Afrika tropis.
  • Platycerium ellissii Baker
  • Platycerium grande (A.Cunn.) J.Sm., dari Asia Tenggara
  • Platycerium hillii
  • Platycerium holttumii
  • Platycerium madagascariensis
  • Platycerium ridleyi
  • Platycerium stemaria (P.Beav.) Desv.
  • Platycerium superbum, dari Australia
  • Platycerium quadridichotomum
  • Platycerium veitchii
  • Platycerium wallichii
  • Platycerium wandae Racib., dari Papua
  • Platycerium willinkii

Paku tanduk rusa (Platycerium) adalah suatu marga tumbuhan paku dengan lebih kurang 18 jenis. Kesemuanya merupakan epifit dengan penampilan yang unik karena memiliki dua tipe daun dengan fungsi dan bentuk jelas berbeda. Paku yang juga biasa disebut simbar menjangan ini dapat dijumpai tumbuh liar di semua daerah tropika dunia.

Pemerian

Epifit sejati, dengan akar melekat di batang pohon lain atau bebatuan. Batang berupa rimpang lunak namun liat dan sulit dipotong. Daun dengan dua tipe; tipe pertama selalu steril dan berbentuk perisai tegak, mengering pada kondisi kurang air, fungsinya mengumpulkan dedaunan kering dan penangkap air, sehingga kelembaban bagi rimpang terjaga; tipe kedua menjuntai dari “pusat” daun tipe pertama dengan bentuk menyerupai tanduk rusa (walaupun ada beberapa jenis yang tidak demikian), fungsinya sebagai pembawa spora yang terletak di sisi bawah daun, panjang daun yang menjuntai dapat mencapai satu meter atau lebih, tergantung jenisnya. P. coronarium dapat memiliki daun fertil yang menjuntai hingga 2,5m. Spora terdapat pada sporangia yang terlindung oleh sori yang tumbuh menggerombol di sisi bawah daun, menyebabkan vlek berwarna coklat pada daun.

Kegunaan

Tumbuhan hias yang biasa dipelihara orang di pekarangan rumah, ditempel di pohon atau digantungkan untuk memberikan kesan alami pada taman. Anakan yang tumbuh dapat dipisah dari induknya secara hati-hati dan ditempelkan pada tempat lain.

P. stemaria

P. andinum
P. superbum. Perhatikan sisi bawah daun berwarna coklat tempat spora dihasilkan.
P. grande
Nephrolepis
Nephrolepis biserrata

Nephrolepis biserrata
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Pteridophyta
Kelas: Pteridopsida
Ordo: Polypodiales
Famili: Lomariopsidaceae
Genus: Nephrolepis
Schott, 1834
Spesies
lihat teks

Paku pedang (Nephrolepis) merupakan sekelompok tumbuhan paku dengan sekitar 40 jenis yang mudah dikenali karena entalnya memanjang berbentuk pedang.

Terna epifit atau setengah epifit, mudah dijumpai tumbuh di tepi-tepi sungai, tebing, atau pada batang palem serta pohon lain. Rimpangnya tipis, menyerupai akar. Dari rimpangnya tumbuh ental yang memanjang, dapat mencapai 1,5m panjang, dengan anak-anak daun tersusun menyirip tunggal, mirip pedang atau mata tombak.

Dalam taksonomi saat ini, Nephrolepis dimasukkan dalam suku Lomariopsidaceae, walaupun banyak yang menganggap Nephrolepis lebih baik dikelompokkan sebagai genus tunggal dari suku Nephrolepidaceae. Sistem lain memasukkannya ke dalam Davalliaceae.

Di Indonesia dan daerah Asia tropis lainnya, Nephrolepis mudah dijumpai di rumah-rumah atau kebun. Tumbuhan ini mudah beradaptasi karena bersifat epifit dan memiliki rimpang yang tahan kering yang menjalar ke mana-mana. Beberapa jenisnya, seperti Nephrolepis exaltata, N. duffii, dan N. cordifolia, dikenal sebagai tanaman hias populer dan memiliki banyak kultivar. N. biserrata biasa dijumpai di batang-batang palem di kebun atau hutan.

Paku laut
Paku laut, Acrostichum aureum   dari Labuan Bakti, Teupah Selatan, Simeulue

Paku laut, Acrostichum aureum
dari Labuan Bakti, Teupah Selatan, Simeulue
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Pteridophyta
Kelas: Pteridopsida
Ordo: Pteridales
Famili: Pteridaceae (Polypodiaceae)
Genus: Acrostichum
Spesies: A. aureum
Nama binomial
Acrostichum aureum
L., 1758

Paku laut adalah sejenis paku-pakuan berukuran besar, yang biasa tumbuh di tanah di bawah naungan hutan bakau atau lahan basah lainnya. Paku atau pakis ini juga dikenal dengan banyak nama lain seperti paku larat, papah, piai (Mal.: piai raya), paku hata diuk (Sd.), warakas, krakas, kakakeok (Jw.), rewayang (Hal.) dan lain-lain. Nama-namanya dalam bahasa Inggris di antaranya golden leather fern, swamp fern, dan mangrove fern.

Pemerian botanis

Paku dalam rumpun yang besar, dapat mencapai tinggi 4 m, dan lebar rumpun yang kurang lebih sama. Batang pendek dan kekar, tegak, tertutupi oleh sisik-sisik besar kecoklatan.

Daun-daun majemuk menyirip, liat serupa kulit (jangat), panjangnya dapat mencapai 3 m, namun dengan tak lebih dari 30 pasang anak daun yang terletak tak beraturan dan, terkadang, renggang. Beberapa pasang (5 pasang atau lebih) anak daun di ujung kerap fertil dan berwarna karat atau kecoklatan, dengan sisi bawah yang tertutupi oleh banyak sporangia yang besar-besar. Anak-anak daun yang steril (mandul) berada di bagian bawah, lebih panjang dan berujung tumpul atau membulat, serta dengan tonjolan ujung kecil yang pendek.

Ekologi

Paku laut, tumbuh di antara tegakan rumbia di rawa dekat pantai

Tumbuh menahun, paku laut hidup di lingkungan hutan bakau (mangrove), rawa pantai, tambak, serta di sepanjang sungai, parit dan kanal dekat laut. Meski demikian, Acrostichum aureum tak seberapa tahan oleh penggenangan pasang air laut dan tak menyukai tanah-tanah dengan salinitas tinggi; tak sebagaimana kerabat dekatnya, A. speciosum.

Meski bersifat halofit (halophytic), paku laut membutuhkan pasokan air tawar yang cukup agar dapat tumbuh optimal. Di tempat-tempat di mana frekuensi penggenangan pasang laut cukup tinggi (10-28 kali perbulan), pakis ini tumbuh kerdil atau bahkan sama sekali tak mau tumbuh. Terhadap penyinaran matahari, paku ini dapat mentolerir pelbagai kondisi seperti tumbuh di bawah naungan hingga ke tempat-tempat terbuka yang terik. Bahkan, paku ini dapat menginvasi lahan-lahan bekas tebangan dan membentuk padang paku laut yang cukup luas.

Manfaat

Daun-daun paku laut yang dikeringkan dipergunakan sebagai atap rumah. Pucuknya yang muda juga dimanfaatkan sebagai sayuran di beberapa daerah. Daun-daun yang tua dan juga akarnya digunakan sebagai bahan obat tradisional.

Penyebaran

Acrostichum aureum ditemukan menyebar di wilayah-wilayah tropis dan ugahari di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Jenis yang serupa

Acrostichum speciosum memiliki perawakan yang mirip dengan A. aureum, dengan sedikit perbedaan. Anak-anak daun yang steril pada A. speciosum memiliki ujung yang meruncing, tak seperti A. aureum yang berujung tumpul atau membulat. (Lihat pula foto pada laman Piai raya, pada Guide of the Mangroves of Singapore).

A. speciosum ditemukan pada habitat yang serupa dengan A. aureum di Nusantara, namun umumnya lebih menyukai tempat-tempat yang kelindungan.

Acrostichum danaefolium serupa pula bentuknya dengan A. aureum. Hanya saja anak daun yang fertil –dengan sporangia di sisi bawahnya– tidak terbatas pada pasangan anak-anak daun di ujung, melainkan juga hingga pasangan-pasangan dekat pangkal daun. A. danaefolium tidak terdapat di Nusantara.

5 Tanggapan

  1. thanks buanget………………………………………………tapi bleh juga pembagian kelasnya di buat dalam bentuk peta konsep…..

    • terima kasih kunjungannya
      smoga bermanfaat

      jika ada keluangan saya usaha update … :lol:
      saya pegang 2 blog di sela2 jaga komputer …

  2. good banget ^^

  3. minta tolong dong dipaparkan juga tentang tumbuhan paku Christella arida (Thelypteridaceae)…
    terimakasih sebelumnya…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: