Kodok dan Katak

Kodok dan Katak
Rentang fosil: Jura – Kini
Bangkong kolong (Bufo melanostictus)

Bangkong kolong (Bufo melanostictus)
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Amphibia
Ordo: Anura
Merrem, 1820
Subordo
Archaeobatrachia
Mesobatrachia
Neobatrachia
-
Daftar suku-suku kodok

Kodok (bahasa Inggris: frog) dan katak alias bangkong (b. Inggris: toad) adalah hewan amfibia yang paling dikenal orang di Indonesia. Anak-anak biasanya menyukai kodok dan katak karena bentuknya yang lucu, kerap melompat-lompat, tidak pernah menggigit dan tidak membahayakan. Hanya orang dewasa yang kerap merasa jijik atau takut yang tidak beralasan terhadap kodok.

Kedua macam hewan ini bentuknya mirip. Kodok bertubuh pendek, gempal atau kurus, berpunggung agak bungkuk, berkaki empat dan tak berekor (anura: a tidak, ura ekor). Kodok umumnya berkulit halus, lembab, dengan kaki belakang yang panjang. Sebaliknya katak atau bangkong berkulit kasar berbintil-bintil sampai berbingkul-bingkul, kerapkali kering, dan kaki belakangnya sering pendek saja, sehingga kebanyakan kurang pandai melompat jauh. Namun kedua istilah ini sering pula dipertukarkan penggunaannya.

Kehidupan kodok dan katak

Kodok dan katak mengawali hidupnya sebagai telur yang diletakkan induknya di air, di sarang busa, atau di tempat-tempat basah lainnya. Beberapa jenis kodok pegunungan menyimpan telurnya di antara lumut-lumut yang basah di pepohonan. Sementara jenis kodok hutan yang lain menitipkan telurnya di punggung kodok jantan yang lembab, yang akan selalu menjaga dan membawanya hingga menetas bahkan hingga menjadi kodok kecil.Sekali bertelur katak bisa menghasilkan 5000-20000 telur, tergantung dari kualitas induk dan berlangsung sebanyak tiga kali dalam setahun.

Telur-telur kodok dan katak menetas menjadi berudu atau kecebong (b. Inggris: tadpole), yang bertubuh mirip ikan gendut, bernafas dengan insang dan selama beberapa lama hidup di air. Perlahan-lahan akan tumbuh kaki belakang, yang kemudian diikuti dengan tumbuhnya kaki depan, menghilangnya ekor dan bergantinya insang dengan paru-paru. Setelah masanya, berudu ini akan melompat ke darat sebagai kodok atau katak kecil.

Kodok dan katak kawin pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada saat bulan mati atau pada ketika menjelang hujan. Pada saat itu kodok-kodok jantan akan berbunyi-bunyi untuk memanggil betinanya, dari tepian atau tengah perairan. Beberapa jenisnya, seperti kodok tegalan (Fejervarya limnocharis) dan kintel lekat alias belentung (Kaloula baleata), kerap membentuk ‘grup nyanyi’, di mana beberapa hewan jantan berkumpul berdekatan dan berbunyi bersahut-sahutan. Suara keras kodok dihasilkan oleh kantung suara yang terletak di sekitar lehernya, yang akan menggembung besar manakala digunakan.

Pembuahan pada kodok dilakukan di luar tubuh. Kodok jantan akan melekat di punggung betinanya dan memeluk erat ketiak si betina dari belakang. Sambil berenang di air, kaki belakang kodok jantan akan memijat perut kodok betina dan merangsang pengeluaran telur. Pada saat yang bersamaan kodok jantan akan melepaskan spermanya ke air, sehingga bisa membuahi telur-telur yang dikeluarkan si betina.

Telur kodok
Dua ekor berudu
Kodok tegalan dewasa

Habitat dan makanan

Kodok dan katak hidup menyebar luas, terutama di daerah tropis yang berhawa panas. Makin dingin tempatnya, seperti di atas gunung atau di daerah bermusim empat (temperate), jumlah jenis kodok cenderung semakin sedikit. Salah satunya ialah karena kodok termasuk hewan berdarah dingin, yang membutuhkan panas dari lingkungannya untuk mempertahankan hidupnya dan menjaga metabolisme tubuhnya.

Dendrobates pumilio, kodok berukuran 18–22 mm dengan kulit beracun dari Amerika Tengah.

Hewan ini dapat ditemui mulai dari hutan rimba, padang pasir, tepi-tepi sungai dan rawa, perkebunan dan sawah, hingga ke lingkungan pemukiman manusia. Bangkong kolong, misalnya, merupakan salah satu jenis katak yang kerap ditemui di pojok-pojok rumah atau di balik pot di halaman. Katak pohon menghuni pohon-pohon rendah dan semak belukar, terutama di sekitar saluran air atau kolam.

Kodok memangsa berbagai jenis serangga yang ditemuinya. Kodok kerap ditemui berkerumun di bawah cahaya lampu jalan atau taman, menangkapi serangga-serangga yang tertarik oleh cahaya lampu tersebut.

Sebaliknya, kodok juga dimangsa oleh pelbagai jenis makhluk yang lain: ular, kadal, burung-burung seperti bangau dan elang, garangan, linsang, dan juga dikonsumsi manusia.

Kodok membela diri dengan melompat jauh, mengeluarkan lendir dan racun dari kelenjar di kulitnya; dan bahkan ada yang menghasilkan semacam lendir pekat yang lengket, sehingga mulut pemangsanya akan melekat erat dan susah dibuka.

Kodok dan manusia

Sudah sejak lama kodok dikenal manusia sebagai salah satu makanan lezat. Di rumah-rumah makan Tionghoa, masakan kodok terkenal dengan nama swie kee. Disebut ‘ayam air’ (swie: air, kee: ayam) demikian karena paha kodok yang gurih dan berdaging putih mengingatkan pada paha ayam. Selain itu, di beberapa tempat di Jawa Timur, telur-telur kodok tertentu juga dimasak dan dihidangkan dalam rupa pepes telur kodok.

Katak berperan sangat penting sebagai indikator pencemaran lingkungan. Tingkat pencemaran lingkungan pada suatu daerah dapat dilihat dari jumlah populasi katak yang dapat ditemukan di daerah tersebut. Latar belakang penggunaan katak sebagai indikator lingkungan karena katak merupakan salah satu mahluk purba yang telah ada sejah ribuan tahun lalu. Jadi katak tetap exist dengan perubahan iklim bumi. Tentunya hanya pengaruh manusialah yang mungkin menyebabkan terancamnya populasi katak. Salah satunya adalah pembuangan limbah berbahaya oleh manusia ke alam. Limbah berbahaya inilah yang bisa mengancam keberadaan katak pada daerah yang tercemar. Selain itu, karena pentingnya kedudukan katak dalam rantai makanan, maka pengurangan jumlah katak akan menyebabkan terganggunya dinamika pertumbuhan predator katak. Bahkan terganggunya populasi katak dapat berakibat langsung dengan punahnya predator katak.

Akan tetapi yang lebih mengancam kehidupan kodok sebenarnya adalah kegiatan manusia yang banyak merusak habitat alami kodok, seperti hutan-hutan, sungai dan rawa-rawa. Apalagi kini penggunaan pestisida yang meluas di sawah-sawah juga merusak telur-telur dan berudu katak, serta mengakibatkan cacat pada generasi kodok yang berikutnya.

Jenis-jenis kodok dan katak

Beberapa jenis kodok yang umum didapatkan, di antaranya:

  • bangkong bertanduk (Megophrys montana), di gunung-gunung
  • bangkong serasah (Leptobrachium hasseltii), di hutan
  • bangkong sungai (Bufo asper), di sekitar sungai
  • bangkong kolong (B. melanostictus), di lingkungan rumah
  • belentung (Kaloula baleata)
  • kongkang kolam (Rana chalconota), di sekitar kolam, saluran air dan sungai
  • kongkang gading (Rana erythraea), di kolam dan telaga
  • bancet hijau (Occidozyga lima), di sawah-sawah
  • kodok tegalan (Fejervarya limnocharis), di sawah dan tegalan
  • kodok sawah (Fejervarya cancrivora), di sawah dan pematang
  • kodok batu (Limnonectes macrodon), di sekitar sungai dan saluran air di kebun
  • katak-pohon bergaris (Polypedates leucomystax), di dekat kolam dan genangan di kebun
  • precil jawa (Microhyla achatina)

Kodok hutan:

  • kongkang racun (Rana hosii), di hutan pedalaman
  • kodok-puru hutan (Ingerophrynus biporcatus)
  • katak kepala-pipih kalimantan (Barbourula kalimantanensis), berstatus terancam kepunahan, satu-satunya kodok yang tidak berparu-paru
  • bangkong tuli (Limnonectes kuhlii), di tepi sungai atau aliran air

Berikut adalah beberapa jenis kodok yang berstatus kritis dan terancam di Indonesia.

  • kodok merah (Leptophryne cruentata), berstatus kritis, endemik Jawa Barat
  • kodok pohon ungaran (Philautus jacobsoni), kritis, endemik hutan Jawa Tengah
  • kongkang jeram (Hula masonii), berstatus rentan, endemik Taman Nasional Gunung Halimun
  • kodok pohon mutiara (Nytixalus margaritifer), rentan, endemik Taman Nasional Gunung Halimun
  • kodok pohon kaki putih (Philautus pallidipes), rentan, endemik Taman Nasional Gunung Halimun
  • kodok pohon jawa (Rhacophorus javanus), rentan, endemik Taman Nasional Gunung Halimun

_________________________________________________________________________________________

Gray Treefrog, Hyla versicolor

Gray Treefrog, Hyla versicolor
Status konservasi

Risiko rendah (IUCN3.1)
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Amphibia
Ordo: Anura
Famili: Hylidae
Genus: Hyla
Spesies: H. versicolor
Nama binomial
Hyla versicolor
LeConte, 1825

Hyla versicolor adalah spesies kodok di Amerika Serikat timur dan Kanada tenggara.
__________________________________________________________________________________________

Coquí
Status konservasi

Risiko rendah
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Upafilum: Vertebrata
Kelas: Amphibia
Ordo: Anura
Famili: Leptodactylidae
Upafamili: Eleutherodactylinae
Genus: Eleutherodactylus
Upagenus: Eleutherodactylus
Spesies: E. coquí
Nama binomial
Eleutherodactylus coqui
Thomas, 1966

Coquí (dibaca “ko-ki”) (Eleutherodactylus coquí) adalah katak yang aslinya berasal dari Puerto Rico, termasuk genus Eleutherodactylus dari famili Leptodactylidae. Sebutan coquí juga kadang digunakan untuk beberapa spesies yang berasal dari genus yang sama, yaitu genus Eleutherodactylus yang berarti jari kaki dalam bahasa Yunani. Nama spesies ini adalah berupa onomatope dari bunyi coquí jantan yang keras (kadang mencapai 100 db dalam jarak 0,5 m) di malam hari yang terdengar “ko – kii …”. Bunyi “ko” yang mencapai 1.160 hertz adalah untuk menakut-nakuti pejantan lain dan mengamankan daerah teritorialnya sedang “ki” yang mencapai 2.090 hertz adalah untuk menarik betina dalam aktivitas reproduktif. Coquí merupakan aspek penting dalam budaya Puerto Rico dan dijadikan simbol tidak resmi dari negara tersebut.

Taksonomi

Coquí termasuk ke dalam genus Eleutherodactylus bersama 700 spesies katak lainnya. Berbagai spesies ini bisa ditemukan di Amerika Serikat, Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan Karibia.

Ada 17 spesies coquí yang sudah dikenali di Puerto Rico. Spesies terbaru ditemukan tahun 2005, dan diterima secara resmi tahun 2007, dinamai Coquí Llanero (Eleutherodactylus juanriveoi).

Deskripsi Umum

Coquí jantan dewasa, diukur dari moncong sampai bokong, berukuran antara 30 sampai 37 mm dengan rata-rata 34 mm, sementara betina dewasa ukurannya antara 36 sampai 52 mm dengan rata-rata 41 mm. Perbedaan ukuran antar jenis kelamin tersebut adalah akibat dari konsumsi energi yang lebih banyak oleh pejantan.

Berbeda dengan gambar-gambar populer yang melukiskan spesies-spesies ini berwarna hijau, coquí sebenarnya kebanyakan berwarna antara abu-abu dan coklat-kelabu. Tidak seperti katak-katak lainnya, coquí tidak memiliki membran untuk berenang di antara jari-jarinya, sehingga tidak siap untuk berenang. Bagaimanapun, seperti semua katak pohon lainnya, coquí memiliki bantalan kecil di ujung jarinya yang membantu saat harus menempel pada permukaan basah atau licin.

Habitat dan distribusi

Coquí berasal dari kepulauan Puerto Rico, dengan Vieques dan Culebra menjadi tempat penyebaran utamanya; satu-satunya perkecualian adalah di hutan kering Puerto Rico dimana penyebarannya agak jarang. Spesies ini juga telah ada di Kepulauan Virgin Amerika Serikat, Republik Dominika, Florida, dan Hawaii, dimana coquí menjadi terlalu banyak dan dianggap sebagai pengganggu.

Coquí adalah katak yang paling banyak di Puerto Rico dengan kepadatan diperkirakan 20.000 individu per hektar. Kepadatan tersebut berfluktuasi tergantung pada musim dan habitat. Umumnya, kepadatan lebih tinggi saat pertengahan terakhir musim hujan dan berkurang selama musim kemarau.

Spesies-spesies ini dianggap memiliki habitat yang luas, termasuk hutan, gunung, daerah kota, lubang di pohon, di bawah batang pohon, batu, atau sampah. Karena tidak memerlukan air untuk bereproduksi, spesies-spesies ini dapat ditemukan pada daerah dengan ketinggian bervariasi selama daerah tersebut cukup lembab. Di Puerto Rico, coquí ditemukan mulai dari daerah setinggi permukaan laut sampai maksimum 1200 m di atas permukaan laut. Sementara di Hawaii, yang tidak sengaja disinggahi coquí melalui tanaman-tanaman yang diimport dan kemudian menyebar luas, katak ini dapat ditemukan sampai maksimum 1170 m. Coquí dewasa umumnya cenderung ditemukan pada tempat yang lebih tinggi dibanding coquí muda.

Makanan

Coquí adalah predator malam yang dapat mengkonsumsi 114.000 invertebrata per hektar setiap malam. Makanannya bervariasi tergantung umur dan ukuran tapi terutama terdiri dari arthropoda. Coquí muda mengkonsumsi mangsa yang lebih kecil seperti semut sementara coquí dewasa mengkonsumsi makanan yang lebih bervariasi termasuk laba-laba, ngengat, jangkrik, siput, dan katak kecil.

Reproduksi

Coquí bisa bereproduksi sepanjang tahun tetapi aktivitas perkembangbiakannya memuncak saat musim hujan. Coquí betina umumnya bertelur antara 16 sampai 40 butir sekitar 4-6 kali setahunnya dengan interval kurang lebih delapan minggu. Telur dijaga dari predator -berupa sesama coquí atau siput subulina- oleh coquí jantan. Periode gestasi coquí terjadi selama 17-26 hari. Periode pematangan, waktu dari telur sampai coquí bisa bereproduksi, adalah sekitar delapan bulan.

Berbeda dengan kebanyakan katak, yang menyimpan telurnya di air, coquí meletakkan telurnya dalam daun palm atau tanaman perdu. Sarang burung yang sudah ditinggalkan juga sering digunakan bersarang oleh coquí. Jenis katak lain yang ada di Puerto Rico juga berbagi sarang dengan coquí. Metoda reproduksi ini memungkinkan coquí untuk hidup di hutan, gunung, dan habitat lain tanpa ketergantungan langsung pada air. Karena telurnya diletakkan di tanah, para coquí tidak melalui tahapan kecebong serta langsung mengembangkan tungkai di dalam telur, dan bukannya bermetamorfosis sebagai larva di air. Sehingga, anak katak yang mandiri langsung muncul dari telur, dengan ekor kecil yang segera hilang setelahnya.

Hanya coquí jantan yang berbunyi saat akan bereproduksi, padahal kedua jenis kelamin bersuara sama kerasnya waktu mengusir penyusup ke daerah teritorial mereka. Pejantan mulai melakukan panggilan di musim kawin dengan bertengger pada daun kira-kira satu sampai dua meter dari permukaan tanah. Sementara betinanya kadang harus berjalan jauh untuk memenuhi panggilan tersebut.

Coquí dan budaya manusia

Masyarakat Puerto Rico menyayangi coquí dan menganggapnya sebagai bagian dari keunikan negaranya. Bunyinya yang khas saat bersahut-sahutan di malam hari menjadi pengantar tidur mereka. Bahkan suara itu akan terkenang-kenang oleh masyarakat Puerto Rico yang berkelana ke luar negeri. Oleh karena itu, coquí kemudian dijadikan maskot dalam promosi pariwisata Puerto Rico. Bahkan ada hotel yang menamakan dirinya Hotel Coquí.

Tidak demikian halnya dengan masyarakat Hawaii. Mereka justru merasa terganggu dengan suara Coquí yang keras, mungkin karena memang lebih keras dibanding di habitat aslinya di Puerto Rico, sehingga mengganggu rakyat setempat dan para pelancong di sana. Kerasnya suara itu diperkirakan akibat lebih banyak coquí yang terkumpul di satu tempat. Gangguan lain yang pada masyarakat di sana adalah karena coquí memangsa hewan asli Hawaii, sehingga dikhawatirkan mengganggu kelestariannya.

Dalam salah satu episode film seri anak-anak Dora the Explorer berjudul “El Coquí”, Dora dan teman monyetnya Boots bertemu dengan katak jenis coquí. Diceriterakan bahwa coquí adalah katak yang pintar bernyanyi (bahkan digambarkan membawa gitar). Namun saat jauh dari kampung halamannya, ia akan merasa sedih, tidak sanggup bernyanyi, bahkan menjadi sakit. Dora dan Boots merasa iba kepada coquí yang tersesat itu sehingga kemudian berpetualang mengantar katak itu ke habitat aslinya di Pulau Coquí. Sesampainya di sana, coquí bisa bernyanyi kembali dengan merdu bersama dengan teman-temannya, “Ko – kii … Ko – kii …”

Katak Wyoming
Status konservasi

Punah di alam liar
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Amphibia
Ordo: Anura
Famili: Bufonidae
Genus: Bufo
Spesies: B. baxteri
Nama binomial
Bufo baxteri
(Porter, 1964)

Katak Wyoming (Bufo baxteri) adalah salah satu binatang amfibi yang amat langka dijumpai karena hanya terdapat di penangkaran dan di dalam Rimba Taman Nasional Danau Mortenson di Amerika Serikat di negara bagian Wyoming. Katak Wyoming terdaftar sebagai salah satu spesies terancam pada tahun 1984.

Secara umum pada tahun 1950an, Katak Wyoming mengalami kemunduran populasi secara tajam selama tahun 1970an yang membawanya kepada status spesies terancam dan sempat dipercaya telah hilang 1980. Kata Wyoming ditemukan kembali di alam liar pada tahun 1987 di sepanjang pesisir Danau Mortenson, yang merupakan danau alpin di ketinggian 7.256 kaki (2.211 m) di atas permukaan laut. Menurut catatan sejarah, katak tersebut hanya dapat ditemukan di Lembah Sungai Laramie yang berjarak 30 mil (50 km) dari Laramie, Wyoming. Pada awal 1990an suatu program penangkaran dimulai untuk menyelamatkan katak ini dari kepunahan, namun belum terjadi reproduksi secara liar sejak 1991.

Konservasi Katak Wyoming di alam liar di masa depan sangat tergantung pada pembasmian Jamur Amfibi Chytrid (Batrachochytrium dendrobatidis), yang dipercaya menjadi ancaman besar kelangsungan hidup spesies ini di masa depan.

Katak Wyoming yang sedang diteliti oleh anggota Dinas Perikanan dan Alam Liar Amerika Serikat.

________________________________________________________________________________________

Bangkong Kolong
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Amphibia
Ordo: Anura
Famili: Bufonidae
Genus: Bufo
Laurenti, 1768.
Spesies: B. melanostictus
Nama binomial
Bufo melanostictus
Schneider, 1799.

Bangkong kolong memiliki nama ilmiah Bufo melanostictus Schneider, 1799. Bangkong ini juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti kodok buduk (Jkt.), kodok berut (Jw.), kodok brama (Jw., yang berwarna kemerahan), dan Asian black-spined toad (Ingg.).

Kodok ini menyebar luas mulai dari India, Republik Rakyat Cina selatan, Indochina sampai ke Indonesia bagian barat. Di Indonesia, dengan menumpang pergerakan manusia, hewan amfibi ini dengan cepat menyebar (menginvasi) dari pulau ke pulau. Kini bangkong kolong juga telah ditemui di Bali, Lombok, Sulawesi dan Papua barat.

Bentuk tubuh

Kodok berukuran sedang, yang dewasa berperut gendut, berbintil-bintil kasar. Bangkong jantan panjangnya (dari moncong ke anus) 55-80 mm, betina 65-85 mm. Di atas kepala terdapat gigir keras menonjol yang bersambungan, mulai dari atas moncong; melewati atas, depan dan belakang mata; hingga di atas timpanum (gendang telinga). Gigir ini biasanya berwarna kehitaman. Sepasang kelenjar parotoid (kelenjar racun) yang besar panjang terdapat di atas tengkuk.

Bagian punggung bervariasi warnanya antara coklat abu-abu gelap, kekuningan, kemerahan, sampai kehitaman. Ada pula yang dengan warna dasar kuning kecoklatan atau hitam keabu-abuan. Terdapat bintil-bintil kasar di punggung dengan ujung kehitaman.

Sisi bawah tubuh putih keabu-abuan, berbintil-bintil agak kasar. Telapak tangan dan kaki dengan warna hitam atau kehitaman; tanpa selaput renang, atau kaki dengan selaput renang yang sangat pendek. Hewan jantan umumnya dengan dagu kusam kemerahan.

Kebiasaan

Bangkong kolong paling sering ditemukan di sekitar rumah. Melompat pendek-pendek, kodok ini keluar dari persembunyiannya di bawah tumpukan batu, kayu, atau di sudut-sudut dapur pada waktu magrib; dan kembali ke tempat semula di waktu subuh. Terkadang, tempat persembunyiannya itu dihuni bersama oleh sekelompok kodok besar dan kecil; sampai 6-7 ekor.

Bangkong kolong kawin di kolam, Sampora, Palabuan Ratu

Bangkong ini kawin di kolam-kolam, selokan berair menggenang, atau belumbang, sering pada malam bulan purnama. Kodok jantan mengeluarkan suara yang ramai sebelum dan sehabis hujan untuk memanggil betinanya, kerapkali sampai pagi. Bunyinya: rrrk, ..rrrk, atau …oorek-orek-orek-orekk ! riuh rendah.

Pada saat-saat seperti itu, dapat ditemukan beberapa pasang sampai puluhan pasang bangkong yang kawin bersamaan di satu kolam. Sering pula terjadi persaingan fisik yang berat di antara bangkong jantan untuk memperebutkan betina, terutama jika betinanya jauh lebih sedikit. Oleh sebab itu, si jantan akan memeluk erat-erat punggung betinanya selama prosesi perkawinannya. Kadang-kadang dijumpai pula beberapa bangkong yang mati karena luka-luka akibat kompetisi itu; luka di moncong hewan jantan, atau luka di ketiak hewan betina.

Nampaknya kodok ini memiliki asosiasi yang erat dengan lingkungan hidup manusia. Dari waktu ke waktu, bangkong kolong terus memperluas daerah sebarannya mengikuti aktivitas manusia. Iskandar (1998) mencatat bahwa kodok ini tak pernah terdapat di dalam hutan hujan tropis.

___________________________________________________________________________________________

Kodok-puru Hutan
Kodok-puru hutan jantan, dari Bogor

Kodok-puru hutan jantan, dari Bogor
Status konservasi

Risiko rendah
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Amphibia
Ordo: Anura
Famili: Bufonidae
Genus: Ingerophrynus
Frost, Grant, Faivovich, Bain, Haas, Haddad, de Sá, Channing, Wilkinson, Donnellan, Raxworthy, Campbell, Blotto, Moler, Drewes, Nussbaum, Lynch, Green, and Wheeler, 2006.
Spesies: I. biporcatus
Nama binomial
Ingerophrynus biporcatus
Gravenhorst, 1829.
Sinonim
Bufo biporcatus

Kodok-puru hutan adalah sejenis katak dari suku Bufonidae (suku katak buduk). Nama ilmiahnya adalah Ingerophrynus biporcatus, menunjuk pada sepasang gigir pendek yang berada di atas kepalanya.

Nama-nama daerahnya antara lain: kodok buduk (Btw.), bangkong buduk (Sd.), dan kodok berut (Jw.). Dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Crested Toad atau Indonesian Toad.

Katak betina, dari Bogor

Bagian punggung, perhatikan sisi lateral yang berduri

Sisi perut (ventral)

Pemerian

Kodok yang sedang besarnya; jantan antara 55-70 mm, sedangkan betina 60-80 mm SVL (snout-vent length, dari moncong ke anus). Di atas ubun-ubun terdapat sepasang gigir (crest) pendek. Sepasang kelenjar parotoid yang besar, oval sampai menyegitiga, terletak di atas bahu. Masing-masing diikuti dengan sederet bintil-bintil yang membesar, hingga ke depan paha.

Punggung kecoklatan, keabu-abuan atau kehitaman, dengan coreng-moreng kecoklatan. Ada pula spesimen yang berwarna coklat kemerahan, dengan deretan bintil di belakang parotoid berwarna merah jambu. Beberapa bercak hitam di punggung terletak tidak simetris. Sisi perut (ventral) berwarna putih keabu-abuan, dengan bercak-bercak gelap kehitaman terutama di sekitar dada. Bintil-bintil di punggung dan perut lebih halus daripada bangkong kolong Duttaphrynus melanostictus, namun berbentuk meruncing. Juga perut umumnya tidak segendut melanostictus. Jantan biasanya dengan tenggorokan kemerahan.

Kaki dan tangan pendek-pendek namun kuat. Jari-jari tangan berujung tumpul, tanpa menggembung, tanpa selaput renang. Sedangkan jari-jari kaki berselaput renang sampai sekitar setengahnya.

Kebiasaan dan penyebaran

Kodok ini biasa ditemukan di lingkungan hutan-hutan primer dan hutan sekunder, serta di sekitar hunian manusia. Di lingkungan pemukiman,kodok ini agak jarang ditemukan dekat rumah dan lebih banyak di sekitar kolam atau belumbang di kebun dan pekarangan.

Untuk memikat betinanya, kodok jantan mengeluarkan suara nyaring dari atas tanah di dekat tepi kolam atau air. Terkadang kodok ini juga berbunyi dari vegetasi yang tumbuh di air, misalnya dari semak sikejut Mimosa pigra sekitar 1-2 meter dari tepian. Bunyi: pirroook.. kirrooo..ook ! , nyaring dan parau berulang-ulang.

Ketika kawin, betinanya meletakkan ratusan butir telur dalam satu rangkaian panjang di genangan air.

Kodok ini menyebar terbatas di Indonesia bagian barat, mulai dari Lampung di pulau Sumatra, Jawa, Bali dan Lombok. Diintroduksi ke Sulawesi.

Jenis yang berkerabat

Kelompok (grup) Bufo biporcatus baru-baru ini (2006) direview dan dipisahkan dari marga Bufo, serta dikelompokkan ke dalam marga tersendiri Ingerophrynus. Ada sekitar 10 anggota marga ini, termasuk biporcatus. Jenis-jenis yang lain:

  • I. celebensis, terbatas di Sulawesi
  • I. claviger, terbatas di Bengkulu, Sumatra dan Nias
  • I. divergens, menyebar di Sumatra, Natuna dan Borneo. Mungkin pula di Semenanjung Malaya
  • I. galeatus, menyebar di Indochina dan Hainan
  • I. kumquat, terbatas di Semenanjung Malaya
  • I. macrotis, menyebar Myanmar, Thailand, Indochina, hingga ke utara Semenanjung Malaya. Mungkin sampai ke India dan Yunan
  • I. parvus, katak-puru kerdil, di Myanmar selatan, Thailand barat daya, Kamboja barat daya, Semenanjung Malaya, Sumatra dan Jawa
  • I. philippinicus, terbatas di Palawan, Filipina, dan pulau-pulau sekitarnya
  • I. quadriporcatus, di Semenanjung Malaya, Sumatra, Borneo, Natuna dan Singapura.

___________________________________________________________________________________________

Bangkong Tuli
Limnonectes kuhlii dari Jabranti, Kuningan, Jawa Barat

Limnonectes kuhlii dari Jabranti, Kuningan, Jawa Barat
Status konservasi

Risiko rendah
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Amphibia
Ordo: Anura
Famili: Ranidae
Genus: Limnonectes
Fitzinger, 1843
Spesies: L. kuhlii
Nama binomial
Limnonectes kuhlii
(Tschudi, 1838)

Bangkong tuli adalah nama sejenis kodok yang pendek gempal, penghuni sungai-sungai kecil. Di Jawa Barat terkadang disebut bancet hutan atau bangkong surat (Sd.). Nama ilmiahnya adalah Limnonectes kuhlii dan dalam bahasa Inggris disebut Kuhl’s Creek Frog, untuk menghormati Heinrich Kuhl, seorang naturalis Belanda yang bekerja dan meninggal di Hindia Belanda pada awal abad-19.

Pemerian

Bersembunyi di sela bebatuan di dasar sungai Ciapus leutik, Calobak, Bogor

Kodok yang gemuk berotot, panjang tubuh dari moncong ke anus (SVL, snout-to-vent length) sampai dengan 80 mm pada kodok jantan, dan sekitar 70 mm pada yang betina. Kepala lebar dengan pelipis berotot, tangan dan kaki pendek berotot.

Timpanum (gendang telinga) tidak jelas atau tidak nampak. Jari kaki berselaput renang penuh hingga ke ujung, jari tangan tanpa selaput renang.

Kulit di punggung (dorsal) sangat berkerut-merut, sebagian membentuk pola serupa bintang; paha, betis dan pantat sering dengan bintil-bintil yang agak besar. Lipatan supratimpanik terlihat jelas. Warna punggung bervariasi dari polos kecoklatan atau kehitaman, sampai berbercak-bercak kecoklatan atau kehitaman dengan belang-belang pada kaki.

Ekologi dan penyebaran

Menyamar di antara serasah di genangan air. Sungai Cirombeng, Jabranti, Kuningan, Jawa Barat

Bangkong tuli menyukai hidup di aliran air yang tenang, di anak-anak sungai dan saliran yang tidak seberapa airnya, terutama pada genangan-genangan bercampur serasah daun-daunan. Juga di genangan di antara batu-batu tepi sungai atau rawa-rawa dangkal.

Iskandar (1998) menyebutkan bahwa jenis ini endemik di wilayah pegunungan di Jawa, meskipun sebelumnya pernah dianggap menyebar luas di Asia. Menurutnya, populasi-populasi di luar Jawa kini telah dipisahkan ke dalam beberapa belas jenis yang lain. Untuk pendapat yang lain, lihat pada IUCN Red List of Threatened Species.

Di Jawa, bangkong tuli terutama tercatat dari gunung-gunung seperti G. Salak (Ciapus), G. Gede (Cibodas, Cibeureum), G. Halimun (Nirmala, Citalahab), Bandung (Pengalengan), G. Tangkubanperahu, G. Malabar, Peg. Ijen dan Peg. Tengger. Juga dari kawasan G. Tilu, Kuningan.

___________________________________________________________________________________________

Kodok Tegalan
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Amphibia
Ordo: Anura
Famili: Ranidae
Genus: Fejervarya
Bolkay, 1915
Spesies: F. limnocharis
Nama binomial
Fejervarya limnocharis
(Gravenhorst, 1829).

Kodok tegalan memiliki nama ilmiah Fejervarya limnocharis (Gravenhorst, 1829). Nama lokalnya ialah kodok tegalan atau kodok sawah; terkadang ada pula yang menyebutnya bancet, nama yang tidak tepat. Kodok ini menyebar luas mulai dari Jepang di utara, India di barat, kepulauan Indonesia sebelah barat sampai ke Flores.

Ciri-cirinya

Hewan ini merupakan kodok kecil, bertubuh pendek dan berkepala meruncing. Panjang kodok jantan sekitar 30-50 mm, yang betina sampai dengan 60 mm.

Punggung berwarna cokelat lumpur, dengan bercak-bercak gelap simetris; terkadang membentuk huruf W atau H di sekitar belikat. Pada beberapa hewan bercampur dengan warna hijau atau kehijauan, kemerahan, keemasan, atau memiliki garis vertebral putih.

Perut dan sisi bawah tubuh putih. Pada kodok jantan, kerap terdapat pola huruf M kehitaman di dagu, di atas kantung suara yang berwarna daging. Sisi samping tubuh dan sisi belakang paha dengan bercak-bercak hitam serupa doreng. Tangan dan kaki dengan coreng-coreng hitam. Bibir berbelang hitam.

Kulit punggung dengan lipatan-lipatan memanjang tak beraturan, seperti pematang seperti deretan bintil panjang, atau seperti bukit-bukit kecil memanjang. Sepasang lipatan kulit berjalan dari belakang mata, melewati atas timpanum (gendang telinga), hingga ke bahu. Kaki berselaput setengahnya, setidaknya satu (pada jari keempat: dua) ruas paling ujung bebas dari selaput renang. Bintil metatarsal sebelah dalam berbentuk oval dan menonjol; sementara metatarsal luar membulat dan rendah, kebanyakan malah hanya serupa bintik kecil.

Kebiasaan

Kodok yang kerap ditemukan di sawah, lapangan berumput, tegalan, hutan jati dan di kebun-kebun karet. Juga kerap ditemukan di tepi-tepi saluran air, tiba-tiba berloncatan ke air apabila akan terpijak kaki. Terkadang, kodok ini tersesat hingga ke halaman rumah.

Kodok tegalan umumnya ditemukan mengelompok (clumped) di lapangan. Pada malam-malam berhujan, kodok-kodok ini berbunyi bersahut-sahutan serupa paduan suara. Wak-wak-wak-wak-wak.. agak lemah bergetar.

Satu Tanggapan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: